Ekslusive Interview

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin terjun ke kancah politik di Pilkada DKI Jakarta. Meski tidak pernah bercita-cita menjadi orang nomor satu di ibukota Jakarta, namun saat pinangan datang, dia menyanggupinya dengan sejumlah pertimbangan.

Lahir dan besar di Palembang, bukan berarti Alex buta akan ibukota. Pria 61 tahun itu menghabiskan masa kuliahnya di Universitas Trisakti, Jakarta. Calon Gubernur yang diusung koalisi Partai Golkar, PPP dan PDS ini pun langsung mempelajari seluk beluk ibukota beserta permasalahannya dalam waktu tiga bulan.

Mantan Bupati Musi Banyuasin ini telah mempersiapkan strategi kampanye bersama wakilnya, Nono Sampono. Dia punya cara khusus untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat Jakarta, meski dengan sisa waktu yang hanya empat bulan ini.

Dia tidak gentar menghadapi lawan-lawan berat yang akan dihadapinya, seperti Fauzi Bowo, Joko Widodo, dan Hidayat Nur Wahid. Makin kuat lawannya, membuat Alex kian bersemangat. “Popularitas tidak menjamin elektabilitas seseorang,” katanya.

Slogan ‘Tiga Tahun Bisa‘ akan diusung Alex Noerdin dan Nano Sampono, dalam kampanyenya. Pria kelahiran 9 September 1950 itu berjanji dalam tiga tahun Jakarta akan bebas banjir dan macet.

Alex maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan mantan Komandan Paspampres Letnan Jenderal (Purn) Nono Sampono. Deklarasi Alex-Nono dilakukan pada 8 Maret 2012 lalu di Hotel Sultan, Jakarta.

Berikut petikan perbincangan VIVAnews.com dengan Alex Noerdin:

Apa yang membuat Anda tertarik menjadi Gubernur DKI?
Jujur, tiga bulan sebelum memutuskan maju, terpikir pun tidak untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tetapi saya diminta. Saya pertimbangkan. Setelah bisa memenuhi empat syarat baru saya jawab iya. Pertama harus izin ke presiden. Kedua, harus yakin bisa lebih mampu dari kandidat incumbent. Ketiga yakin bisa menyelesaikan masalah Jakarta dalam jangka waktu yang terukur. Keempat, harus ada pengganti Gubernur Sumatera Selatan yang lebih baik dari diri saya.

Jadi Bismillah saya melanjutkan bakti membangun daerah bukan hanya di Sumatera Selatan saja tetapi di Jakarta. Sebab di Jakarta ini wajah etalase, jendela depan dari republik ini. Kalau Jakarta tidak beres, republik kita tidak dihargai dengan baik. Saya merasa terpanggil untuk ini, tetapi bukan hanya terpanggil saja terus yakin bisa menyelesaikan masalah.

Lawan-lawan Anda cukup berat, bagaimana Anda menyikapi ini?
Ya jelas saja yang berada lebih lama di sini lebih banyak dikenal, tetapi belum tentu disukai. Popularitas belum menjamin elektalibilitas. Lawan semua berat, Pak Foke berat, Pak Hidayat Nur Wahid berat. Tetapi tambah berat lawan tambah semangat, seperti main pingpong kalau lawan main jelek, pasti kita mainnya akan jelek. Jadi kalau lawan seimbang itu lebih enak.

Anda hanya memiliki waktu empat bulan sebelum pemilihan pada Juli mendatang. Yakin bisa?
Ya di situ tantangannya. Alhamdulillah bagi saya tambah besar tantangan tambah besar semangat.

Apa yang akan dilakukan dalam empat bulan ke depan untuk mengejar ketinggalan tadi?
Jelas saya harus sosialisasi mengejar dulu popularitas dengan program-program yang masuk akal bagi rakyat, memecahkan permasalahan mereka sehingga disukai kemudian dipilih.

Sejauh apa Anda mengenal Jakarta dengan segala permasalahannya?
Saya dulu sekolah di sini kemudian bekerja di Sumatera Selatan, tapi sering datang ke Jakarta. Sebagai ibukota saya ikuti juga perkembangannya. Selama tiga bulan terakhir ini saya pelajari seluruhnya, studi-sudi tentang Jakarta. Jadi saya cukup mengenal Jakarta. Yang pertama kenal permasalahan dulu setelah itu baru mencari solusinya kemudikan diukur bisa tidak ini dilaksanakan dalam kurun waktu yang terukur dan biaya yang terukur. Kalau masuk akal tinggal eksekusi.

Sempat ada isu dukungan PDS belum final. Smentara kalau hanya dari Golkar dan PPP tidak cukup. Sebenarnya apa yang terjadi?
Golkar punya tujuh kursi, PPP tujuh kursi, dan PDS empat kursi jadi 18 kursi. PDS dari awal saya sudah tahu permasalahannya, tetapi dari awal saya juga yakin bahwa PDS nanti memang dalam klarifikasi yang dipermasalahkannya itu.

Tapi buat jaga-jaga, ada 20 partai tanpa kursi sudah bergabung dengan kami, hanya satu setengah jam sebelum batas waktu ditutup. Jadi kalau ditotalkan tanpa PDS, Golkar PPP dan 20 partai ini 16 persen lebih dengan PDS 20 persen lebih, jadi aman.

Ada banyak permasalahan di Jakarta, antara lain kemacetan dan banjir. Apa rencana Anda?
Masalah yang dihadapi oleh Jakarta itu macet, banjir dan masalah sosial. Masalah sosial itu bisa diuraikan lagi seperti ledakan penduduk akibat urbanisasi, tingginya tingkat kriminalisasi yang menimbulkan rasa tidak aman, kemiskinan, kawasan kumuh, pemukiman ilegal dan seterusnya.

Penyebab utama macet adalah pengguna kendaraan pribadi jauh lebih banyak daripada kendaraan umum.

Penyebab kedua pertumbuhan panjang jalan dengan pertambahan kendaraan tidak seimbang, yang ketiga penyempitan daya tampung jalan karena trotoar dijadikan tempat berjualan pedagang kaki lima, parkir di trotoar, dan pasar tumpah.

Keempat adalah banjir. Sebab kalau sudah hujan, maka genangan di jalan akan membuat jalur kendaraan terhambat, dan macet. Dulu katanya di atas jam 22.00 WIB sudah tidak macet lagi, sekarang sampai pagi saja masih macet. Dulu juga katanya kalau hujan macet, tetapi sekarang, hujan atau tidak hujan tetap saja macet.

Kalau kita lihat satu-satu, kenapa orang lebih suka naik kendaraan pribadi daripada kendaraan umum? Dari data tahun 2002, yang menggunakan kendaraan umum 51 persen. Pada 2010 tinggal 17 persen, ini berkurang sangat jauh, karena angkutan umum tidak nyaman, tidak tepat waktu, dan tidak terjangkau.

Penyebab orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi karena adanya blank spot. Bukan tidak ada sinyal, tetapi satu wilayah di Jakarta itu tidak terjangkau oleh angkutan umum. Pasti orang malas jalan kaki karena jauh dari halte atau stasiun dan pangkalan ojek terdekat.

Solusinya, kalau kita sudah tahu problemnya ini dengan mudah bisa diselesaikan. Kendaraan umum yang tidak nyaman harus dibuat nyaman. Kendaraan umum dibuat menjadi pilihan utama ketimbang kendaraan pribadi.

Apakah nantinya Anda akan melanjutkan program Fauzi Bowo seperti busway?
Pertumbuhan panjang jalan 0,01 persen per tahun, lalu pertumbuhan kendaraan 9-15 persen setahun. Nah supaya ini bisa cocok, kita konversi ke luas kendaraan dan luas jalan, baru itu bisa dihitung.

Grafik ini berpotongan di satu titik yang dinamakan grid lock. Pada saat grafik ini berpotongan, apabila mobil keluar dari rumah maka langsung macet, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Kalau itu terjadi di akhir 2014, kita tidak bisa bergerak lagi.

Sebenarnya apapun yang dilakukan itu sudah terlambat. Jadi orang yang menyebabkan keterlambatan ini harus bertanggungjawab. Ini masih bisa secara perlahan diurai. Nanti diselesaikan kalau sudah tidak ada cara apapun yang bisa ditempuh.

Dari 15 koridor TransJakarta, sepuluh dibangun oleh Sutiyoso. Kemudian dilanjutkan oleh Fauzi Bowo. Selama menjadi gubernur dari awal sampai sekarang hanya satu koridor yang dibangun. Kemudian KRL, kenapa banyak yang naik di atas karena kapasitasnya kurang. Kenapa tidak ditambah gerbong. Atau kenapa frekuensi tidak ditambah. Saat ini ada 94 persimpangan sebidang di Jakarta. Di situ tidak semua ada palang pintu. Oleh karena itu tiga tahun pertama harus dihapus. Nanti kami buat underpass dan flyover sehingga frekuensi dan kapasitas bisa ditambah.

Kami akan tambah 1000 armada TransJakarta dan membangun lima koridor lagi. Monorail diselesaikan, MRT dipercepat, kemudian feeder ditambah. Sekarang ada busway tapi tetap saja macet jika jalurnya tidak steril.

Kemudian memperbanyak feeder busway. Ada feeder tapi tidak ada parkirnya. Oleh karena itu perlu diperbanyak park and right parkir seperti yang ada di Ragunan. Ditambah menjadi 10 titik. Penumpang yang mobilnya parkir di sana hanya membayar dengan satu tiket. Jadi tiket intermoda sekaligus untuk parkir dan mendapat fasilitas cuci mobil. Jalurnya juga terhubung dengan stasiun KRL.

Information Techology juga masuk di sistem tiket. Nantinya penumpang yang ada di halte bisa tahu bus kapan datang. Itu sangat memudahkan. Kalau dijalankan atau dieksekusi oleh pimpinan Jakarta dengan ketegasan, saya bisa sampaikan di sini tiga tahun bisa. Pasangan Alex Nordin dan Nono Sampono menjamin bisa membebaskan Jakarta dari macet dan banjir selama 3 tahun, kalau tidak mundur.

Budaya warga Jakarta kalau ke kantor menggunakan mobil. Apakah bisa dihilangkan?
Kalau di Singapura, mereka lebih senang menggunakan taxi atau MRT. Sebab naik mobil pribadi parkirnya mahal. Di Tokyo bahkan orang tidak suka punya mobil pribadi karena untuk garasinya saja bayarnya mahal. Kenapa orang Indonesia masih menggunakan mobil pribadi, karena angkutan umum belum bagus. Kalau dijamin nyaman pasti semua pakai angkutan umum.

Bagaimana rencana pembangunan monorail yang saat ini sudah dihentikan oleh Fauzi Bowo?
Saya tahu mengapa itu tidak jadi, sudah saya pelajari. Saya sudah konfirmasi kepada yang berkompeten tapi tidak bagus kalau saya sampaikan di sini karena itu menyerang beberapa orang. Tapi diteruskan karena tiangnya sudah ada kan sayang. Kalau tidak diteruskan untuk mencabut tiangnya saja mahal.

Anda setuju dengan wacana pemindahan ibu kota?
Apakah pemindahan ibukota bisa menyelesaikan masalah, berapa biaya pemindahan ibukota, berapa lama persiapannya. Ini tidak gampang, jadi daripada berwacana terlalu lama apakah masih mau menunggu 20 tahun lagi lebih baik selesaikan dulu kemacetan, banjir dan masalah sosial ini.

Bagaimana strategi mengurangi banjir?
Penyebabnya pasti hujan, tetapi tidak hujan tetap saja dapat banjir kiriman. Adanya penyempitan badan sungai karena bangunan ilegal, dan pembuangan sampah ke sungai. Ada 40 persen dari luas wilayah Jakarta terutama di bagian utara di bawah permukaan air laut pasang.

Penyedotan air tanah secara besar-besaran menyebabkan air tanah kering dan menyebabkan rongga di bawahnya.

Apabila hujan, air tidak diserap oleh lahan karena bangunan beton. Sehingga harus dibangun sungai resapan. Jadi sumur resapan di hotel, dan mal tidak cukup. Di perumahan harusnya dibangun sumur resapan tetapi nyatanya tidak. Ada lagi biopori lubang berdiameter kecil, itu juga sumur resapan. Nah itu salah satu untuk mencegah banjir supaya kalau hujan air tidak langsung masuk ke sungai dan dibuang ke laut. Tetapi diserap oleh tanah.

Ada 13 sungai yang melewati Jakarta, sungai ini penuh limbah yang menyebabkan sedimentasi untuk Jakarta. Jika hujan turun air sungai akan meluap menggenangi Jakarta. Oleh karena itu membangun Banjir Kanal Barat harus sekaligus Banjir Kanal Timur. Dengan selesainya Banjir Kanal Timur ini 30 persen banjir Jakarta masih bisa dikurangi dan itu masih belum cukup.

Masalah ibukota tidak bisa diatasi oleh Jakarta itu sendiri. Banjir itu karena ada kiriman dari hulu. Data awal 2011, penduduk malam Jakarta 10,1 juta, siang menjadi 12,6 juta. Jadi ada commuter yang masuk ke Jakarta sebanyak 2,5 juta. Dari Tangerang masuk 550 ribu, dari Bekasi 800 ribu perhari. Dari Depok dan Bogor masuk 600 ribu. Dan di Jakarta sendiri terjadi pergerakan 18,7 juta penduduk. Dan sebagian pergerakan ini menggunakan kendaraan pribadi. Seandainya 2,5 juta pendatang itu menggunakan 60-70 persen kendaraan umum sudah sangat meringankan beban lalu lintas Jakarta.

Seperti macet, penanganan banjir tidak bisa ditangani oleh Jakarta itu sendiri, tapi daerah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, dan Cianjur. Jadi kalau banjir harus diatasi dari hulu dan Jakarta dari tengah dan hilir di utara harus terpadu.

Untuk itu, menjadi Gubernur DKI harus mau mengkoordinasi kepala daerah kabupaten atau kota lain. Menjadi gubernur daerah itu jauh lebih sulit daripada gubernur DKI Jakarta.

Saya ambil contoh di Sumatera Selatan. Di sana ada 11 Kabupaten dan ada empat kota provinsi. Bupati dan walikota di era otonomi itu punya otoritas sendiri. Dengan adanya otonomi, maka mereka tidak perlu tunduk pada gubernur dan tidak perlu datang kalau diundang. Kebanyakan di provinsi banyak yang tidak sohib dengan walikotanya. Gubernur DKI dia membawahi lima walikota dan satu bupati tapi adminstratif. Diangkat dan diberhentikan oleh gubernur. Jadi gubernur DKI Jakarta punya otoritas penuh.

Jika ada yang tidak percaya orang daerah bisa mengelola masalah Jakarta, pendapat itu harus dikoreksi. Tapi yang pasti gubernur DKI belum tentu bisa jadi gubernur daerah lain. Kalau kami gubernur dari daerah lain, Insya Allah peluang berhasil lebih besar karena ada kaitannya dengan koordinasi Jabodetabek. Kalau kami sudah berpengalaman koordinasi dengan bupati dan walikota, saya yakin bisa. Sebab semuanya akan membantu program untuk mesejanterakan rakyat, program untuk meringankan rakyat, program untuk membuat citra kota Jakarta lebih baik pasti setuju.

Bagaimana dengan sektor pendidikan?
Yang paling dibutuhkan oleh rakyat kecil adalah harapan. Orang bisa bertahan hidup kalau masih punya harapan. Syarat anak-anak bisa bertahan adalah sekolah. Kewajiban pemerintah adalah membukakan akses seluasa-luasnya kepada seluruh generasi untuk bisa sekolah gratis.

Kedua yang diharapkkan oleh orang yang berada di level paling bawah yakni bisa berobat kalau sakit. Di situlah kewajiban pemerintah untuk mengambil alih tanggung jawab membayar. Dulu, seminggu setelah dilantik menjadi Bupati Musi Banyuasin di awal 2002, saya membuat program sekolah gratis 12 tahun dan berobat gratis. Pada tahun pertama banyak yang sinis dan tidak setuju.

Cukup berat di tahun pertama hingga tahun ketiga. Saya dibilang memanjakan masyarakat, dan tidak mendidik. Saya katakan ini untuk pendidikan, masyarakat patut dimanjakan karena itu uang rakyat sendiri. Bagi saya lebih baik anak-anak sekolah di bekas kandang sapi, atau di bawah pohon karena bangunanya rusak, diajari oleh guru bodoh karena kualitasnya belum memenuhi persyaratan daripada berkeliaran di jalan.

Setelah itu tidak ada alasan lagi untuk tidak sekolah. Sambil jalan kita perbaiki kualitasnya. Kalau soal pendiidikan itu yang pertama guru, kedua guru dan yang ketiga guru. Perbaikan kualitas guru dan kesejahteraan guru lalu fasilitas infrastruktur, kelas, laboratorium, buku. Bila sekolah gratis berjalan dengan baik, mutu tidak kalah.

Untuk Jakarta, baru 2013 ada sekolah gratis nanti kami majukan satu hari setelah pelantikan.

Sistem keamanan seperti apa yang sudah Anda persiapkan?
Kamtibmas akan dikelola dan dikomandoi oleh Nono Sampono. Target waktu paling lama satu tahun. Insya Allah satu tahun lagi jika membawa kamera di angkutan umum aman.

Dulu Pak Nono sampaikan tidak mau menjadi orang nomor dua?
Buktinya hari ini dia mau, tentu dengan pertimbangan. Sebulah lalu nama saya belum muncul, mungkin dengan saya mendapatkan hal yang sangat luar biasa maka bisa dengan Nono Sampono. Jadi apalagi yang diragukan, saya dua kali menjabat bupati, sekali gubernur. Saya juga pernah menjadi ketua Gubernur se-Indonesia. Saya pernah menjadi ketua penghasil Migas seluruh Indonesia, saya mulai karir dari pegawai golongan dua hingga pangkat paling tinggi di pegawai negeri.

Saya menempuh pendidikan pegawai negeri dari jenjang yang terendah hingga yang tertinggi. Saya mulai dari berbagai macam jabatan, saya boleh sampaikan dengan bangga bukan dengan sombong tidak ada staf saya yang membohongi saya karena saya lebih dulu tahu. Nah begitu juga dengan Nono Sampono. Kami orang di lapangan, kami teruji. Kalau orang pernah memimpin di lapangan, komandan Korps Marinir itu marinir terbaik.

Kalau pernah memimpin organisasi bupati se-Indonesiai pasti bupati terbaik. Jadi track record selama ini visi yang telah kami sampaikan tidak perlu diragukan.

Siapa lawan terberat?
Semua berat, di dalam Pilkada boleh yakin tetapi tidak boleh under estimate kepada pasangan manapun. Yakin dengan diri sendiri tetapi tidak boleh terrlalu pede.

Bagaiman perhitungannya?
Kalau saya mau, dan pak Nono mau berarti yakin, nah itu saja. Semua sudah dihitung.

Kira-kira sampai putaran kedua tidak?
Kalau lihat banyak seperti ini kemungkinan besar dua putaran. Kalau di daerah lain boleh 30 persen plus 1, khusus DKI Jakarta 50 persen plus 1. Kalau lihat komposisi 6 pasangan ini sulit juga, tetapi who knows!

Seandainya tidak jadi?
Dalam pertandingan selalu ada yang menang dan kalah. Kalau belum menang berarti belum di-ridhoi, ya dengan besar hati saya kembali lagi ke Sumatera Selatan toh saya masih gubernur. Saya tidak mengejar jabatan dan tidak haus kekuasaan karena saya sekarang ini masih menjabat Gubernur Sumatera Selatan. Gubernur Sumsel bukan sembarangan Gubernur.

Tag Line?
3 Tahun bisa.

Apakah strategi kampanye akan menggunakan sosial media juga?
Itu pasti. Jakarta itu luasnya 662 KM/m2, tidak mungkin saya datangi dalam waktu tersisa 3 bulan ini. Jadi perang media massa itu luar biasa. Tetapi sekali lagi memang berat tetapi Pilkada di daerah Sumatera Selatan itu luasnya puluhan kali Jakarta, infrastruktur dan fasilitas tidak sebaik di sini. Bayangkan kalau kita mau ke kabupaten ujungnya lagi 8 jam dari kota Palembang.

Dan penduduknya tidak terkumpul seperti di sini. Saya senang karena berkunjung satu tempat dekat dan lebih enak. Jadi jangan menganggap remeh kami orang daerah. Justru orang daerah lebih kuat, buktikan saja. Jadi kalau tiga tahun setuju pasti langsung pilih. Komitmen dan janji kalau tiga tahun tidak bisa kami akan mundur. Ada yang mengatakan mengatasi macet itu tidak bisa instan tapi tiga tahun itu tidak instan dan lama apalagi lima tahun.(eh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s